Merajut Asa Dari Sudut Desa

BEKRAF Sukses Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif Tenun Ikat Sikka – Maumere

0 27
Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif Tenun Ikat Sikka – Maumere
Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif Tenun Ikat Sikka – Maumere

INFODESA.ID-Maumere -Setelah tiga bulan sejak Juli 2016 Badan Ekonomi Kreatif melakukan Pembinaan dan Pendampingan terhadap 50 penenun yang mewakili dari 6 Desa di Kabupatem Maumere, hari ini bertempat di Sylvia Hotel Maumere dilakukan acara penutupan Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif di Kabupaten Maumere.

Acara penutupan ini dihadiri oleh Bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera, Deputi Bidang Infrastruktur Bekraf Bapak Hari Santosa Sungkari, Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik, Bekraf Selliane Halia Ishak, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Sikka, Kepala Dinas Pariwisata Kab. Sikka serta para penenun yang telah mengikuti pembinaan dan pendampingan selama 3 bulan ini. Dalam kegiatan selama tiga bulan di Maumere tersebut telah berhasil memberikan semangat serta tambahan skills bagi para penenun dalam melakukan perubahan berbasis kearifan lokalnya.

Perubahan tersebut dapat dilihat dari semangat para penenun dalam mengikuti tahapan demi tahapan selama pembinaan dan pendampingan mulai dari bagaimana memanfaatkan alam sebagai sumber utama untuk bahan pewarnaan, kemudian bagaimana membudidayakan bibit untuk bahan bakunya, bagaimana berkreasi dengan pengenalan pola tanpa harus meninggalkan nilai-nilai tradisi, bagaimana para penenun mengenal trend, serta bagaimana membuat hitungan nilai dari hasil karyanya.

Dari 50 penenun yang ikut dalam program ini, hari ini kita disuguhi sebanyak 76 hasil karya tenun ikat Sikka yang mengalami transformasi baik dalam pewarnaan, penggarapan serta keragamannya. Kalau dulu sebelum ikut dalam program ini kebanyakan hanya membuat kain tenun ikat tradisional, kini sudah dapat membuat baju dari kain tenun ini tanpa merusak nilai kearifan lokalnya dan lebih dapat diterima oleh khalayak luas. Hasil karya tenun ikat Sikka yang dibuat selama tiga bulan dalam program ini kesemuanya akan di bawa dan dipamerkan di Jakarta pada bulan November 2016 nanti.

Bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera dalam sambutan penutupan Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif di Maumere menjelaskan bahwa Sesuai data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka, di Kabupaten Sikka saat ini memiliki 131 Kelompok tenun ikat yang tersebar di 21 Kecamatan dengan total penenun yang terdaftar sebanyak 2111 penenun.

                “Perkembangan serta permintaan Tenun Ikat Sika terus meningkat, namun ada kendala yakni bagaimana Tenun Ikat Sikka ini mampu menjadi perhatian pasar yang lebih luas. Melalui Program Fasilitasi Pembentukan Desa Kreatif khususnya untuk Kain Tenun Ikat Sikka, selaku Bupati Sikka kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bekraf, melalui program ini seperti yang kita lihat pada pagi ini, Tenun Ikat Sikka akan siap diterima oleh pasar yang lebih luas,” papar Bupati Sikka.

                Pada kesempatan itu, Bupati Sikka juga mengajak kelompok-kelompok tenun yang ada di Sikka untuk kembali menanam Kapas, kembali ke bahan alam, juga meminta Kepala Dinas Pariwisata Sikka untuk melakukan sinergi dan koordinasi agar program ini tetap berjalan.

Terkait dengan Program tersebut, Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari menjelaskan bahwa Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif tersebut dimaksudkan untuk mengenali potensi unggulan desa dengan berusaha mengetahui dari 5 Rantai Nilai Ekonomi Kreatif, serta 4 aktor (Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah, dan Media), serta 2 (dua) daya ungkit yakni forwad linkage dan backward linkage. Artinya program ini dilakukan secara bersama-sama dan saling sinergi oleh lintas pemangku kepentingan yang melibatkan Pemerintah baik pusat maupun daerah, komunitas kreatif sebagai representasi masyarakat, akademisi dan para pelaku usaha. Program fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif memiliki tujuan besar, yaitu; peningkatan PDRB, peningkatan jumlah tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

“Bermula dari pemahaman akan potensi yang ada di desa khususnya dari 16 subsektor ekonomi kreatif tersebut kita akan angkat guna dapat mengembangkan ekonomi daerah. Ekosistem juga ditujukan agar subsektor unggulan memiliki nilai tambah (value added) yang tinggi terutama dalam hal kualitas produk, sehingga mampu melahirkan banyak usaha rintisan, startup, wirausaha dan UKM dibidang ekonomi kreatif,” jelas Hari Santosa Sungkari.

Denny Kho seorang Pengajar Bidang Textile dan Fashion yang juga perancang busana dan selama tiga bulan melakukan pembinaan serta pendampingan dalam program ini menjelaskan bahwa, para penenun di Maumere ini secara skills sudah menguasai, sehingga mempermudah tugasnya untuk mengajak bersama-sama berubah menjadi yang lebih baik dari sisi kreasi. Selain itu Denny juga mengajak untuk memanfaatkan bahan baku dari alam sekitar, kemudian juga mengajarkan tentang pewarnaan, pemolaan, serta menyulut keberanian para penenun yang ada untuk melakukan kreasi secara berani tanpa harus meninggalkan nilai-nilai tradisi yang sudah tertanam sejak nenek moyangnya.

 “Kalau selama ini para penenun di Sikka lebih banyak berkarya untuk keperluan tradisi atau adat dan sebaian kecil lainnya untuk dijual guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya, kini saya tantang bagaimana para penenun yang ada mampu menciptakan ragam produk yang bisa diakui dan diterima masyarakat internasional dan pasar tanpa merusak tradisi atau kearifan lokal yang ada,” jelas Denny.

Senada dengan Deny,  Peneliti Kain Indonesia dari ITB Dr. Ratna Panggabean, M.Sn menyampaikan bahwa karya-karya yang dihasilkan selama tiga bulan tersebut secara teknis dan orisinalitas tidak perlu diragukan lagi, dan secara keseluruhan telah bertransformasi sesuai dengan harapan dari program tersebut.

“Yang sulit dalam pembinaan dan pendampingan ini adalah bagaimana merubah pola pikir serta memicu semangat untuk berubah dari para penenun, dan ini pengajar dalam program ini telah sukses mendorong para penenun untuk menghasilkan karya yang dapat diterima oleh pasar yang lebih luas,” jelas Ratna.

Lebih jauh ia berharap, setelah suksesnya piolot project Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif di Maumere selama tiga bulan ini, kedepannya diharapkan pemerintah daerah memiliki kesamaan semangat untuk meneruskan dan menyukseskan pembentukan ekosistem desa kreatif – kain tenun ikat Sikka ini dengan senantiasa melakukan pembinaan dan pendampingan.[rill]

Leave A Reply

Your email address will not be published.