Merajut Asa Dari Sudut Desa

Tradisi Masyarakat Desa Maninilii Menyambut Bulan Ramadhan

0 133

INFODESA.ID – PARIGI MOUTONG, Desa Maninili, Ragam tradisi ritual menjelang bulan Ramadhan tak lekang oleh waktu. Salah satunya, tradisi Ziarah Kubur dan pembacaan do’a Arwah yang masih dilakukan masyarakat Muslim di daerah Kabupaten Parigi Moutong seperti di Desa Maninili Kecamatan Tinombo Selatan, dimana hampir di setiap rumah tangga melakukan pembacaan do’a Arwah. Kegiatan pembacaan do’a ini di lakukan setelah ziarah kubur, ungkap Darwis Daeng Malino, mantan Kepala DeSa Maninili, Minggu(29/4/2019).

Dimana setiap rumah tangga tak terkecuali menjelang 10 hari bulan Ramadhan semua melakukan Tradisi ini dan sudah dilakukan turun temurun. Pambacaan Do’a Arwah, biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan atau imam atau pegawai syara mesjid untuk memimpin Do’a. Do’a ini berisikan tahlil dan do’a khusus arwah. Do’anya menyebutkan nama siapa yang dikirimkan, terangnya.

Darwis menceritakan, yang merepotkan menjelang Seminggu menjelang Bulan Ramadhan, Imam desa atau pegawai syara mesjid harus di sampaikan 2 atau 3 hari sebelum acara, agar bisa membagi pegawai syara ke setiap rumah tangga. Seperti malam ini ujar Darwis, malam ini ada 3 rumah tangga membaca Doa Arwah jadi Imam dan Pegawai Syara di bagi, dan Kegiatan di lakukan Baada Sholat Magib sampai Sholat Isya. Urainya.

Tradisi ini berakhir sehari sebelum taraweh pada bulan puasa. Alhamdulillah sampai sekarang tetap dilakukan. Pembacaan Do’a arwah juga sebagai bentuk rasa syukur kepada sang pencipta karena masih diberikan kesempatan untuk bertemu Bulan Ramadhan. ujar Darwis.

Hal yang sama Juga di sampaikan oleh Ibu Waslia Budullah, Guru SD Inpres Siney Kec.Tinombo Selatan, Kebiasaan kami di desa Maninili dan sekitarnya setelah ziarah kubur malamnya langsung baca do’a arwah, tentunya melakukan serangkaian persiapan seperti menyiapkan berbagai menu yang akan disantap bersama para tamu, ujarnya

Menu hidangan yang disediakan tuan rumah yang melaksanakan ritual ini beraneka ragam. Namun ada yang tidak pernah ketinggalan dalam prosesi tradisi ini, yakni cucur tene (kue bentuk bulat berisegii ditiap sisinya, terbuat dari adonan tepung dan gula merah/aren dengan cara digoreng), Kue Lapis pisang, Taraju, Tumpi-Tumpi dan tidak ketinggalan juga Baje (beras pulut yang di campur gula merah dan durian), dan Buah pisang.urainya.

Selesai pembacaan do’a arwah dilanjutkan santap makan. Usai makan para tamu undangan sebelum pulang sudah menjadi tradisi membawa kue yang di hidangkan dalam bungkusan tas kresek yang disiapkan, selanjutnya menyalami tuan rumah. Dan sekalian silaturahim saling maaf memaafkan sebelum masuknya bulan yang penuh berkah tersebut, Tutur Was.**(MadBudullah).

Leave A Reply

Your email address will not be published.